surabayafeeds – Komika Fico Fachriza mengungkap fenomena unik di Surabaya, di mana warga disebut lebih mempercayai Radio Suara Surabaya (SS) untuk menyelesaikan berbagai masalah dibanding melapor ke pemerintah atau aparat. Solidaritas pendengar dan respons cepat menjadi alasannya.
Fico Fachriza Ungkap Fenomena Unik di Surabaya
Setiap daerah memiliki kebiasaan dan budaya yang khas. Namun ada satu fenomena yang mungkin hanya bisa ditemukan di Surabaya. Di tengah era media sosial dan aplikasi digital yang berkembang pesat, banyak warga Kota Pahlawan justru masih mengandalkan radio sebagai sumber informasi utama, bahkan untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi sehari-hari.
Fenomena tersebut baru-baru ini kembali menjadi perbincangan setelah komika Fico Fachriza membahasnya dalam sebuah obrolan yang kemudian viral di media sosial. Dalam percakapan tersebut, Fico mengungkapkan bahwa masyarakat Surabaya memiliki tingkat kepercayaan yang sangat tinggi terhadap Radio Suara Surabaya atau yang lebih dikenal sebagai Radio SS dan E100.
Menurut Fico, kepercayaan itu bahkan dalam beberapa situasi disebut lebih besar dibanding kepercayaan warga terhadap pemerintah atau aparat ketika menghadapi suatu masalah. Pernyataan tersebut langsung menarik perhatian banyak orang, terutama mereka yang tidak berasal dari Surabaya dan belum pernah merasakan bagaimana kuatnya pengaruh Radio SS di kehidupan masyarakat setempat.
Radio yang Lebih dari Sekadar Penyiar Informasi
Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, radio mungkin hanya dianggap sebagai media hiburan atau sumber berita. Namun bagi banyak warga Surabaya, Radio Suara Surabaya memiliki peran yang jauh lebih besar.
Selama puluhan tahun, radio ini berkembang bukan hanya sebagai media penyiaran, tetapi juga sebagai ruang komunikasi publik yang aktif. Pendengar tidak hanya mendengarkan informasi, tetapi juga ikut berpartisipasi memberikan laporan kondisi lalu lintas, kejadian darurat, kehilangan barang, kecelakaan, hingga berbagai persoalan sosial yang terjadi di lapangan.
Keterlibatan masyarakat yang sangat tinggi membuat Radio SS berkembang menjadi sebuah jaringan informasi yang hidup selama 24 jam. Setiap laporan yang masuk dapat langsung diteruskan kepada ribuan pendengar lain yang tersebar di berbagai wilayah Surabaya dan sekitarnya.
Kondisi inilah yang kemudian menciptakan sesuatu yang sulit ditemukan di banyak daerah lain, yaitu rasa keterhubungan antarwarga yang sangat kuat meskipun mereka tidak saling mengenal secara pribadi.
Ketika Kehilangan Barang, Warga Memilih Menghubungi Radio
Dalam cerita yang disampaikan Fico, salah satu alasan utama mengapa masyarakat Surabaya sangat mempercayai Radio SS adalah karena kecepatan respons yang mereka rasakan.
Ia mencontohkan bagaimana warga yang kehilangan barang sering kali merasa mendapatkan bantuan lebih nyata ketika laporan mereka disiarkan melalui radio dibanding hanya melapor ke pihak berwenang. Menurutnya, ketika informasi kehilangan disampaikan melalui siaran Radio SS, para pendengar lain akan ikut memperhatikan dan membantu mencari informasi terkait keberadaan barang tersebut.
Fico bahkan menyebut ada kasus kehilangan mobil yang berhasil terungkap berkat bantuan jaringan pendengar radio. Setelah laporan disiarkan, warga yang berada di berbagai titik kota ikut memantau dan memberikan informasi ketika kendaraan yang dicari terlihat melintas. Informasi tersebut kemudian diteruskan secara berantai hingga kendaraan berhasil ditemukan.
Kisah semacam ini bukan cerita baru bagi masyarakat Surabaya. Selama bertahun-tahun, Radio SS memang dikenal sebagai media yang sering membantu mempertemukan laporan kehilangan dengan informasi dari warga yang berada di lapangan.
Lahirnya Budaya “Warga Jaga Warga”
Fenomena tersebut pada akhirnya melahirkan istilah yang cukup populer di Surabaya, yaitu “warga jaga warga”.
Istilah ini bukan sekadar slogan. Banyak warga menilai bahwa budaya saling membantu di Surabaya memang tumbuh secara alami melalui interaksi yang dibangun oleh Radio Suara Surabaya selama puluhan tahun.
Ketika ada kecelakaan, warga melapor. Ketika terjadi kemacetan, warga memberi informasi. Saat ada kendaraan hilang, warga lain ikut membantu mencari. Bahkan dalam kondisi darurat seperti banjir, kebakaran, atau gangguan keamanan, informasi sering kali menyebar sangat cepat melalui jaringan pendengar radio tersebut.
Yang menarik, proses ini berlangsung secara sukarela. Tidak ada kewajiban bagi warga untuk ikut membantu, namun banyak yang merasa terpanggil untuk berkontribusi karena melihat manfaat yang bisa dirasakan bersama.
Budaya seperti ini membuat banyak orang Surabaya merasa memiliki jaringan sosial yang kuat. Mereka tahu bahwa ketika menghadapi masalah, ada ribuan pasang mata dan telinga yang siap membantu memberikan informasi.
Kepercayaan yang Dibangun Selama Puluhan Tahun
Tingginya kepercayaan masyarakat terhadap Radio SS tentu tidak muncul dalam semalam. Kepercayaan tersebut dibangun melalui konsistensi selama bertahun-tahun.
Sejak berdiri pada 1983, Radio Suara Surabaya dikenal sebagai media yang memberikan ruang besar bagi partisipasi masyarakat. Pendengar tidak diposisikan hanya sebagai konsumen informasi, melainkan juga sebagai bagian dari sistem informasi itu sendiri.
Model komunikasi dua arah ini membuat warga merasa didengar. Mereka dapat melaporkan kondisi yang terjadi di sekitar mereka dan melihat bahwa laporan tersebut benar-benar ditindaklanjuti atau setidaknya diketahui oleh masyarakat luas.
Dalam konteks komunikasi publik, rasa percaya biasanya muncul ketika masyarakat merasa suara mereka memiliki nilai. Radio SS berhasil membangun persepsi tersebut dalam jangka waktu yang panjang.
Akibatnya, ketika muncul persoalan di lapangan, banyak warga yang secara spontan memilih menghubungi radio karena merasa informasi yang mereka sampaikan akan mendapatkan perhatian lebih cepat.
Apakah Ini Bentuk Ketidakpercayaan kepada Aparat?
Pernyataan Fico bahwa warga lebih percaya Radio SS dibanding pemerintah atau aparat tentu memunculkan diskusi yang cukup menarik.
Sebagian orang melihat fenomena ini sebagai kritik terhadap pelayanan publik yang dianggap belum selalu responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Ketika laporan warga tidak mendapatkan respons yang memuaskan, mereka cenderung mencari saluran lain yang dianggap lebih efektif.
Namun di sisi lain, ada pula yang berpendapat bahwa popularitas Radio SS tidak selalu berarti masyarakat tidak percaya kepada aparat. Banyak kasus justru menunjukkan bahwa informasi yang disebarkan melalui radio kemudian menjadi jembatan antara warga dengan instansi terkait.
Dalam praktiknya, Radio Suara Surabaya sering berinteraksi dengan kepolisian, dinas perhubungan, pemadam kebakaran, hingga pemerintah daerah. Informasi yang masuk dari warga sering kali diteruskan kepada instansi yang memiliki kewenangan untuk menindaklanjuti.
Artinya, radio berfungsi sebagai penghubung yang mempercepat arus informasi antara masyarakat dan lembaga publik.
Kekuatan Komunitas di Era Digital
Yang membuat fenomena ini semakin menarik adalah kenyataan bahwa semua itu tetap bertahan di tengah perkembangan teknologi digital.
Saat banyak media tradisional kehilangan audiens akibat media sosial, Radio SS justru berhasil beradaptasi. Mereka tidak hanya mengandalkan siaran radio konvensional, tetapi juga memanfaatkan aplikasi, media sosial, dan berbagai platform digital lainnya.
Meski medianya berkembang, inti dari kekuatannya tetap sama, yaitu komunitas.
Di era ketika banyak orang merasa semakin individualistis, Surabaya menunjukkan contoh bahwa komunitas yang solid masih bisa bertahan dan bahkan berkembang melalui teknologi.
Fenomena ini menjadi bukti bahwa masyarakat tidak selalu mencari platform yang paling canggih. Mereka lebih menghargai platform yang mampu memberikan manfaat nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Kenapa Fenomena Ini Sulit Ditemukan di Kota Lain?
Banyak kota di Indonesia memiliki stasiun radio, media lokal, maupun grup komunitas yang aktif. Namun tidak semuanya mampu membangun tingkat kepercayaan seperti yang dimiliki Radio Suara Surabaya.
Salah satu alasannya adalah konsistensi. Kepercayaan publik membutuhkan waktu yang sangat lama untuk dibangun dan bisa hilang dalam waktu singkat jika tidak dijaga.
Selain itu, keberhasilan Radio SS juga tidak lepas dari karakter masyarakat Surabaya yang dikenal terbuka, komunikatif, dan memiliki solidaritas sosial yang tinggi. Kombinasi antara media yang aktif dan masyarakat yang partisipatif menciptakan ekosistem yang saling memperkuat satu sama lain.
Karena itu, fenomena ini tidak mudah direplikasi begitu saja oleh daerah lain.
Ketika Informasi Menjadi Kekuatan Bersama
Di tengah maraknya hoaks dan informasi yang beredar tanpa verifikasi di media sosial, fenomena Radio Suara Surabaya menunjukkan sisi lain dari kekuatan informasi. Ketika informasi digunakan untuk membantu sesama, dampaknya bisa jauh lebih besar daripada sekadar menjadi konsumsi publik.
Kasus kehilangan kendaraan yang berhasil ditemukan, laporan lalu lintas yang membantu pengguna jalan, hingga berbagai persoalan sosial yang cepat diketahui masyarakat menunjukkan bahwa informasi dapat menjadi alat yang memperkuat solidaritas.
Mungkin inilah alasan mengapa banyak warga Surabaya tetap setia pada Radio SS hingga hari ini. Bagi mereka, radio tersebut bukan sekadar media penyiaran, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari yang membuat warga merasa tidak sendirian ketika menghadapi masalah.
Referensi
Instagram @undercover.id
https://www.instagram.com/p/DY-6TtCzqL4/
Suara Surabaya Media
https://www.suarasurabaya.net
E100 Surabaya
https://e100.suarasurabaya.net
Profil Radio Suara Surabaya
https://id.wikipedia.org/wiki/Radio_Suara_Surabaya