surabayafeeds – Aparat kepolisian menyiagakan 300 personel gabungan untuk mengamankan aksi damai yang digelar oleh ratusan hingga ribuan anggota perguruan silat di Kota Surabaya, Jawa Timur. Pengamanan dilakukan sebagai langkah antisipasi agar penyampaian aspirasi masyarakat dapat berlangsung dengan aman, tertib, dan tidak mengganggu aktivitas warga.
Aksi damai tersebut menjadi perhatian publik karena melibatkan massa dalam jumlah besar. Meski demikian, kepolisian memastikan seluruh personel yang diterjunkan mengedepankan pendekatan persuasif dan humanis selama proses pengamanan.
Kapolrestabes Surabaya menegaskan bahwa pengamanan dilakukan bukan untuk membatasi hak masyarakat dalam menyampaikan pendapat, melainkan memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan sesuai aturan dan tidak menimbulkan gangguan terhadap keamanan maupun ketertiban umum.
Ratusan Personel Disiagakan di Sejumlah Titik
Sebanyak 300 personel gabungan ditempatkan di sejumlah titik strategis yang menjadi jalur pergerakan massa maupun lokasi aksi. Personel tersebut berasal dari Polrestabes Surabaya dengan dukungan unsur terkait lainnya.
Pengamanan dilakukan sejak pagi hari. Polisi tidak hanya berjaga di lokasi utama aksi, tetapi juga mengatur arus lalu lintas agar mobilitas masyarakat tetap berjalan lancar meski terdapat konsentrasi massa dalam jumlah besar.
Selain itu, petugas juga melakukan pemantauan terhadap titik-titik yang berpotensi mengalami kepadatan kendaraan. Langkah ini diambil untuk meminimalkan kemacetan sekaligus memberikan rasa aman kepada pengguna jalan.
Menurut kepolisian, skema pengamanan telah disusun jauh sebelum aksi berlangsung melalui koordinasi dengan panitia maupun pihak-pihak terkait.
Polisi Kedepankan Pendekatan Humanis
Dalam pengamanan aksi damai kali ini, aparat kepolisian menegaskan pendekatan yang digunakan adalah pelayanan dan pengamanan, bukan tindakan represif.
Petugas diminta mengutamakan komunikasi dengan peserta aksi serta menghindari tindakan yang berpotensi memicu gesekan. Seluruh personel juga diingatkan untuk menjalankan tugas secara profesional sesuai standar operasional prosedur.
Pendekatan humanis menjadi bagian penting dalam setiap pengamanan unjuk rasa. Polisi menilai komunikasi yang baik dapat membantu menciptakan suasana yang kondusif sekaligus mengurangi potensi kesalahpahaman di lapangan.
Dengan cara tersebut, peserta aksi dapat menyampaikan aspirasi secara tertib, sementara masyarakat tetap dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan nyaman.
Berdasarkan pemantauan aparat, aksi yang dilakukan para pesilat berlangsung dengan tertib. Massa mengikuti arahan koordinator lapangan dan tetap menjaga ketertiban selama kegiatan berlangsung.
Kepolisian juga mengapresiasi sikap peserta aksi yang kooperatif serta mematuhi aturan yang telah disepakati sebelumnya. Kondisi tersebut membuat proses pengamanan berjalan lebih efektif tanpa adanya gangguan berarti.
Selain menjaga keamanan, petugas lalu lintas juga membantu mengatur kendaraan di sekitar lokasi aksi agar tidak terjadi penumpukan kendaraan yang berlebihan.
Hak Menyampaikan Pendapat Tetap Dilindungi
Polisi menegaskan bahwa penyampaian pendapat di muka umum merupakan hak setiap warga negara yang dijamin oleh undang-undang. Karena itu, aparat berkewajiban memberikan pengamanan agar hak tersebut dapat dilaksanakan dengan aman.
Namun, penyampaian aspirasi juga harus dilakukan secara tertib, menghormati pengguna jalan lain, serta tidak merusak fasilitas umum maupun mengganggu ketertiban masyarakat.
Melalui koordinasi yang baik antara aparat dan penyelenggara aksi, kegiatan dapat berlangsung sesuai tujuan tanpa menimbulkan konflik ataupun gangguan keamanan.

Keberhasilan pengamanan aksi damai tidak lepas dari koordinasi yang dilakukan sejak awal antara kepolisian, penyelenggara aksi, pemerintah daerah, dan berbagai pihak terkait.
Komunikasi sebelum kegiatan berlangsung dinilai mampu meminimalkan potensi kesalahpahaman di lapangan. Jalur aksi, waktu pelaksanaan, hingga mekanisme penyampaian aspirasi telah dibahas bersama sehingga seluruh pihak memahami peran masing-masing.
Model pengamanan seperti ini juga menjadi bagian dari upaya membangun hubungan yang baik antara aparat keamanan dengan masyarakat.
Sebagai kota metropolitan sekaligus pusat kegiatan ekonomi di Jawa Timur, Surabaya kerap menjadi lokasi berbagai kegiatan masyarakat, termasuk aksi penyampaian aspirasi.
Karena itu, pengamanan yang profesional menjadi faktor penting agar aktivitas publik tetap berjalan tanpa mengurangi hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat.
Dengan dukungan 300 personel gabungan, kepolisian berharap setiap agenda penyampaian aspirasi dapat berlangsung secara damai, aman, dan tetap menghormati kepentingan masyarakat luas.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah aksi damai tidak hanya ditentukan oleh aparat keamanan, tetapi juga oleh kedewasaan seluruh peserta dalam menjaga ketertiban serta menghormati aturan yang berlaku. Ketika komunikasi dan kerja sama berjalan dengan baik, penyampaian aspirasi dapat menjadi bagian dari kehidupan demokrasi yang sehat tanpa mengorbankan keamanan dan kenyamanan publik.
Referensi
- ANTARA – 300 Personel Kawal Aksi Damai Pesilat di Surabaya. https://www.antaranews.com/
- Humas Polri – Informasi pengamanan kegiatan masyarakat dan unjuk rasa. https://humas.polri.go.id
- Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum. https://peraturaan.bpk.go.id